HIV Bukan Aib, Hapus Stigma terhadap ODHIV !! dan Kenali Faktanya

Oleh: Amaliarf 22 Mei 2026 10:40:30
0 Komentar 17 Penonton

Kontributor : Annisa Salsabilla

Bayangkan jika seseorang baru saja mengetahui status dirinya yang dinyatakan sebagai orang dengan HIV (ODHIV), saat Ia harus berusaha untuk menerima kondisi tubuhnya dan melakukan terapi ARV, Ia justru mendapatkan tekanan tambahan seperti stigma masyarakat, keluarga, atau bahkan stigma dari tenaga medis. Ironisnya tantangan terbesar saat ini bukan masalah medis, melainkan stigma HIV yang masih melekat di masyarakat. 

Stigma terhadap ODHIV merupakan hambatan yang menyebabkan individu tersebut merasa malu dan takut, sehingga Ia menunda pengobatannya bahkan menutupi statusnya sebagai ODHIV. Jika ODHIV akhirnya enggan menjalankan terapi antiretroviral (ARV) maka dapat memperburuk kondisi kesehatan tubuhnya, karena virus HIV yang semakin berkembang dapat berisiko menjadi AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome). Oleh karena itu, pentingnya menghapus stigma HIV dan memberikan dukungan penuh pada mereka.

Seberapa Besar Masalah HIV di Indonesia?

Indonesia sedang menghadapi tantangan HIV yang cukup serius, dari tahun ke tahun kasus HIV semakin meningkat. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI, pada tahun 2025 diperkirakan terdapat sekitar 564.000 ODHIV. Dari jumlah perkiraan kasus tersebut, ada yang lebih mengkhawatirkan yaitu capaian pengobatan atau terapi ARV yang jauh dari target UNAIDS 95-95-95:

  • 63% ODHIV mengetahui status HIV mereka
  • 67% menjalani terapi ARV
  • dan hanya 55% yang mencapai viral load tersupresi /dapat ditekan

Arti target UNAIDS Triple 95 yaitu bahwa dari kasus tersebut 95% ODHIV mengetahui status HIV mereka, 95% dari ODHIV yang mengetahui statusnya mendapatkan terapi ARV, dan 95% dari mereka yang menerima terapi ARV mengalami viral load tersupresi. Tapi berdasarkan data di Indonesia masih jauh dari target tersebut, salah satu penyebab utama rendahnya angka tersebut adalah stigma dan diskriminasi yang masih melekat di masyarakat. Selain itu, Kemenkes menunjukkan bahwa 53% ODHIV bahkan tidak mengetahui adanya perlindungan hukum atas hak mereka, sehingga membuat banyak dari mereka ragu untuk mengakses layanan kesehatan.

Apa Itu Stigma HIV dan Bagaimana Bentuknya?

Stigma HIV adalah prasangka negatif, sikap dan perlakuan diskriminatif yang diarahkan kepada seseorang karena status HIV mereka. Stigma bisa saja muncul dari keluarga, lingkungan sosial, tempat kerja. selain itu juga dari tenaga kesehatan. Stigma yang sering dihadapi oleh ODHIV misalnya seperti menolak untuk berjabat tangan, menolak makan bersama, perlakukan yang berbeda seperti dikucilkan, memberikan pelayanan yang kurang baik. Selain itu Self-stigma juga dapat terjadi saat ODHIV mempercayai stigma dari lingkungan sekitarnya sehingga Ia akan merasa malu, rendah diri, dan akhirnya menarik diri dari lingkungan sosial.

Mengapa Stigma HIV Lebih Berbahaya??

Dampak stigma pada ODHIV tidak hanya menyakiti perasaan tapi juga memperburuk situasi kesehatan dalam tubuhnya, seperti:

  • Rasa takut dihakimi sehingga banyak orang yang menghindari tes HIV, sehingga tidak mengetahui statusnya dan tanpa sadar menularkan virus.
  • ODHIV yang sudah mengetahui status HIV nya kerap menunda untuk memulai terapi ARV karena takut ketahuan oleh keluarga atau lingkungan.
  • Tekanan sosial dan psikologis akibat stigma dapat meningkatkan risiko depresi, kecemasan, dan isolasi pada ODHIV sehingga dapat menurunkan kualitas hidup mereka.

Adanya dukungan sosial dari keluarga dan lingkungan membuktikan dapat meningkatkan kualitas hidup ODHIV secara signifikan. Jika sebaliknya yaitu pengucilan dan diskriminasi justru memperburuk kondisi kesehatan mereka secara fisik maupun mental.

Mitos vs Fakta tentang HIV

Kenali Mitos dan Fakta tentang HIV

  1. Mitos : HIV dan AIDS merupakan hal yang sama. Faktanya HIV dan AIDS adalah hal berbeda, HIV adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh. Sedangkangkan AIDS merupakan kondisi komplikasi jika HIV tidak mendapatkan penanganan yang tepat.
  2. Mitos : HIV menular melalui kontak sosial seperti berjabat tangan, berbagi alat makan. Faktanya HIV menular melalui darah, air mani, cairan vagina, dan air susu ibu (ASI).
  3. Mitos : ODHIV tidak bisa memiliki keturunan. Fakta bahwa ODHIV dapat memiliki keturunan jika melakukan terapi ARV rutin supaya dapat menekan risiko penularan dari ibu ke janin secara signifikan.

Apa Saja yang Bisa Kita Lakukan?

Langkah-langkah yang bisa kita lakukan yaitu:

  • Tingkatkan pengetahuan dengan mempelajari fakta-fakta tentang HIV dari sumber terpercaya seperti Kemenkes RI atau tenaga medis.
  • Gunakan bahasa yang tepat seperti menggunakan dalam penyebutan "Orang dengan HIV (ODHIV)" bukan label-label yang merendahkan.
  • Dukungan orang terdekat seperti teman dan keluarga memiliki peran sangat mempengaruhi dalam membantu ODHIV mengambil keputusan untuk melakukan pengobatan.
  • Lakukan tes secara rutin, karena mengetahui status sebagai ODHIV merupakan langkah bertanggung jawab, bukan sesuatu yang perlu ditakuti atau dimalukan.
  • Sebarkan informasi yang benar, jangan mudah percaya pada hoaks tentang HIV di lingkungan sekitar.

EMPATI adalah Obat yang Kita Punya 

HIV memang belum bisa disembuhkan, tetapi stigma dan diskriminasi dapat kita hentikan mulai sekarang. Sikap saling menghargai, tidak menghakimi, dan memperlakukan setiap orang dengan setara merupakan langkah nyata dalam perang melawan HIV.

RS Roemani Muhammadiyah Semarang berkomitmen untuk menjadi ruang yang aman dan tidak diskriminatif bagi semua pasien, termasuk ODHIV. Kunjungi dan konsultasi melalui Poliklinik Rawat Jalan Penyakit Dalam, bersama Dr. dr. Muchlis Achsan Udji Sofro, SpPD, KPTI merupakan Konsultan Penyakit Tropik dan Infeksi yang berpengalaman dalam penanganan HIV. 

📲 Yuk jadwalkan konsultasi sekarang juga 

Lokasi dan Informasi Layanan

📍 Instalasi Poliklinik – RS Roemani Muhammadiyah Semarang
Jl. Wonodri No 22, Semarang
☎️ (024) 8444625 / 8444626
📱 WhatsApp Customer Service: 089531464260

📅Cek jadwal Poliklinik RS Roemani

📅 Pendaftaran Online RS Roemani


Buka
Senin - Jumat     07.00 - 21.00
Sabtu                  07.00 - 19.00


Rumah Sakit Roemani Muhammadiyah Semarang

Rumah Sehat Keluarga Islami



Referensi

 

Tags:
HIV bukan aib Mitos Fakta HIV HIV AIDS stigma ODHIV pencegahan HIV penularan HIV

Tidak ada Komentar

Komentar Baru