Hipertensi pada Anak Meningkat di Indonesia, Orang Tua Jangan Anggap Sepele
- 18 Mei 2026
- 126
Kontributor : Annisa Salsabilla
Bayangkan jika seseorang baru saja mengetahui status dirinya yang dinyatakan sebagai orang dengan HIV (ODHIV), saat Ia harus berusaha untuk menerima kondisi tubuhnya dan melakukan terapi ARV, Ia justru mendapatkan tekanan tambahan seperti stigma masyarakat, keluarga, atau bahkan stigma dari tenaga medis. Ironisnya tantangan terbesar saat ini bukan masalah medis, melainkan stigma HIV yang masih melekat di masyarakat.
Stigma terhadap ODHIV merupakan hambatan yang menyebabkan individu tersebut merasa malu dan takut, sehingga Ia menunda pengobatannya bahkan menutupi statusnya sebagai ODHIV. Jika ODHIV akhirnya enggan menjalankan terapi antiretroviral (ARV) maka dapat memperburuk kondisi kesehatan tubuhnya, karena virus HIV yang semakin berkembang dapat berisiko menjadi AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome). Oleh karena itu, pentingnya menghapus stigma HIV dan memberikan dukungan penuh pada mereka.
Indonesia sedang menghadapi tantangan HIV yang cukup serius, dari tahun ke tahun kasus HIV semakin meningkat. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI, pada tahun 2025 diperkirakan terdapat sekitar 564.000 ODHIV. Dari jumlah perkiraan kasus tersebut, ada yang lebih mengkhawatirkan yaitu capaian pengobatan atau terapi ARV yang jauh dari target UNAIDS 95-95-95:
Arti target UNAIDS Triple 95 yaitu bahwa dari kasus tersebut 95% ODHIV mengetahui status HIV mereka, 95% dari ODHIV yang mengetahui statusnya mendapatkan terapi ARV, dan 95% dari mereka yang menerima terapi ARV mengalami viral load tersupresi. Tapi berdasarkan data di Indonesia masih jauh dari target tersebut, salah satu penyebab utama rendahnya angka tersebut adalah stigma dan diskriminasi yang masih melekat di masyarakat. Selain itu, Kemenkes menunjukkan bahwa 53% ODHIV bahkan tidak mengetahui adanya perlindungan hukum atas hak mereka, sehingga membuat banyak dari mereka ragu untuk mengakses layanan kesehatan.
Stigma HIV adalah prasangka negatif, sikap dan perlakuan diskriminatif yang diarahkan kepada seseorang karena status HIV mereka. Stigma bisa saja muncul dari keluarga, lingkungan sosial, tempat kerja. selain itu juga dari tenaga kesehatan. Stigma yang sering dihadapi oleh ODHIV misalnya seperti menolak untuk berjabat tangan, menolak makan bersama, perlakukan yang berbeda seperti dikucilkan, memberikan pelayanan yang kurang baik. Selain itu Self-stigma juga dapat terjadi saat ODHIV mempercayai stigma dari lingkungan sekitarnya sehingga Ia akan merasa malu, rendah diri, dan akhirnya menarik diri dari lingkungan sosial.
Dampak stigma pada ODHIV tidak hanya menyakiti perasaan tapi juga memperburuk situasi kesehatan dalam tubuhnya, seperti:
Adanya dukungan sosial dari keluarga dan lingkungan membuktikan dapat meningkatkan kualitas hidup ODHIV secara signifikan. Jika sebaliknya yaitu pengucilan dan diskriminasi justru memperburuk kondisi kesehatan mereka secara fisik maupun mental.

Kenali Mitos dan Fakta tentang HIV
Langkah-langkah yang bisa kita lakukan yaitu:
HIV memang belum bisa disembuhkan, tetapi stigma dan diskriminasi dapat kita hentikan mulai sekarang. Sikap saling menghargai, tidak menghakimi, dan memperlakukan setiap orang dengan setara merupakan langkah nyata dalam perang melawan HIV.
RS Roemani Muhammadiyah Semarang berkomitmen untuk menjadi ruang yang aman dan tidak diskriminatif bagi semua pasien, termasuk ODHIV. Kunjungi dan konsultasi melalui Poliklinik Rawat Jalan Penyakit Dalam, bersama Dr. dr. Muchlis Achsan Udji Sofro, SpPD, KPTI merupakan Konsultan Penyakit Tropik dan Infeksi yang berpengalaman dalam penanganan HIV.
📲 Yuk jadwalkan konsultasi sekarang juga
📍 Instalasi Poliklinik – RS Roemani Muhammadiyah Semarang
Jl. Wonodri No 22, Semarang
☎️ (024) 8444625 / 8444626
📱 WhatsApp Customer Service: 089531464260
📅Cek jadwal Poliklinik RS Roemani
📅 Pendaftaran Online RS Roemani
Buka
Senin - Jumat 07.00 - 21.00
Sabtu 07.00 - 19.00
Rumah Sakit Roemani Muhammadiyah Semarang
Rumah Sehat Keluarga Islami
Tidak ada Komentar