Warna ASI Berbeda-beda, Apakah Normal? Kenali Jenis, Manfaat, dan Tips Agar ASI Lancar
- 11 Mei 2026
- 72

Belakangan ini, hantavirus kembali menjadi perhatian dunia setelah muncul laporan klaster kasus pada penumpang kapal pesiar internasional yang dikonfirmasi oleh WHO. Beberapa kasus bahkan dilaporkan berujung kematian akibat komplikasi gangguan paru berat. Kondisi ini membuat banyak orang mulai bertanya, sebenarnya apa itu hantavirus dan apakah virus ini berbahaya?
Meski tergolong penyakit langka, hantavirus tetap perlu diwaspadai karena dapat menyebabkan gangguan pernapasan serius hingga gagal organ. Penularannya juga berkaitan erat dengan lingkungan yang terkontaminasi tikus atau hewan pengerat.
Hantavirus adalah kelompok virus yang ditularkan oleh hewan pengerat, terutama tikus liar. Virus ini dapat menginfeksi manusia melalui kontak dengan urine, air liur, atau kotoran tikus yang terkontaminasi virus.
Menurut World Health Organization, hantavirus termasuk penyakit zoonosis, yaitu penyakit yang berasal dari hewan dan dapat menular ke manusia.
Kasus yang sedang ramai diberitakan saat ini berkaitan dengan Andes virus, salah satu jenis hantavirus yang ditemukan di Amerika Selatan.
Perhatian global meningkat setelah WHO melaporkan adanya klaster kasus hantavirus pada penumpang kapal pesiar internasional MV Hondius pada Mei 2026. Hingga laporan terbaru, terdapat beberapa kasus terkonfirmasi dengan angka kematian mencapai sekitar 38% pada klaster tersebut.
WHO menyebutkan bahwa sebagian besar kasus diduga berasal dari paparan lingkungan yang terkontaminasi hewan pengerat sebelum penularan lanjutan terjadi pada kontak erat tertentu.
Meski demikian, WHO menegaskan risiko penyebaran luas kepada masyarakat global masih tergolong rendah.
Banyak masyarakat mengira hantavirus hanya ditemukan di luar negeri. Namun menurut Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Kemenkes RI, penelitian menunjukkan virus ini telah lama ditemukan di Indonesia.
Studi di beberapa kota besar Indonesia menemukan seroprevalensi hantavirus pada manusia mencapai sekitar 11,6%. Artinya, sebagian masyarakat kemungkinan pernah terpapar virus ini meskipun tidak terdiagnosis.
Selain itu, infeksi hantavirus pada populasi tikus di Indonesia dilaporkan dapat mencapai 0–34%. Virus ini ditemukan di berbagai kota besar seperti Jakarta, Bandung, Semarang, hingga Denpasar.
Kemenkes menyebut jenis hantavirus yang paling sering ditemukan di Indonesia adalah Seoul virus (SEOV), yang dibawa oleh tikus rumah seperti:
Karena tikus jenis ini hidup dekat dengan manusia, maka risiko paparan di lingkungan perkotaan menjadi lebih tinggi.
Penularan hantavirus paling sering terjadi melalui:
Aktivitas yang meningkatkan risiko antara lain:
WHO menjelaskan bahwa penularan antar manusia sangat jarang terjadi. Hingga saat ini, penularan manusia ke manusia baru terdokumentasi secara terbatas pada Andes virus dengan kontak erat dan berkepanjangan.
Gejala awal hantavirus sering menyerupai flu biasa sehingga cukup sulit dikenali pada tahap awal.
Gejala awal:
Pada kondisi berat, pasien dapat mengalami:
Masa inkubasi umumnya sekitar 1 hingga 8 minggu setelah paparan virus.
Pada kasus berat, penyakit ini dapat menyebabkan gagal napas dan memiliki angka kematian cukup tinggi pada beberapa tipe virus. Namun, kasus berat relatif jarang dan sebagian besar risiko dapat ditekan melalui pencegahan lingkungan.
Hingga saat ini, belum ada laporan wabah besar hantavirus di Indonesia seperti yang terjadi pada klaster kapal pesiar internasional tersebut. Namun keberadaan hewan pengerat di lingkungan tropis tetap membuat kewaspadaan penting dilakukan.
Kementerian kesehatan di berbagai negara juga meningkatkan pemantauan terhadap kemungkinan kasus impor akibat mobilitas internasional.
Indonesia memiliki beberapa faktor yang membuat kewaspadaan terhadap hantavirus penting dilakukan, antara lain:
Kondisi tersebut dapat menjadi habitat ideal bagi tikus untuk berkembang biak.
.jpg)
Pencegahan utama hantavirus adalah menghindari kontak dengan tikus dan area yang terkontaminasi.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan:
Jika mengalami demam, sesak napas, atau gejala berat setelah terpapar lingkungan yang banyak tikus, segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan.
Saat ini belum ada obat antivirus khusus maupun vaksin spesifik untuk hantavirus. Penanganan dilakukan secara suportif, terutama untuk membantu fungsi pernapasan dan organ tubuh pasien.
Deteksi dan penanganan dini menjadi faktor penting untuk meningkatkan peluang kesembuhan pasien.
Jangan abaikan jika mengalami demam tinggi, sesak napas, nyeri dada, atau kondisi tubuh memburuk setelah terpapar lingkungan yang banyak tikus atau kotoran hewan pengerat. Pemeriksaan dan penanganan cepat sangat penting untuk mencegah komplikasi yang lebih berat.
Segera datang ke IGD RS Roemani Muhammadiyah Semarang
Atau hubungi ambulans kami yang siap 24 jam
📞 Hotline IGD & Ambulans 24 Jam: 0813-4000-4467
Layanan cepat, tenaga medis siaga, dan siap membantu kapan pun dibutuhkan.
Jangan ragu saat darurat. Segera cari pertolongan.
IGD RS Roemani siap untuk Anda, 24 jam.
RS Roemani Muhammadiyah Semarang
Rumah. Sehat. Keluarga Islami.
Referensi :
Tidak ada Komentar