Turun Berat Badan Tidak Harus Drastis. Berapa Target yang Sehat dalam Sebulan?
- 31 Juli 2026
- 536
 (1).jpg)
Persiapan ibadah umroh dan haji bukan hanya soal dokumen perjalanan, perlengkapan, dan manasik. Kondisi kesehatan juga perlu dipersiapkan sejak jauh-jauh hari.
Salah satu yang tidak boleh dilewatkan adalah vaksinasi meningitis dan polio. Keduanya bukan sekadar formalitas untuk melengkapi dokumen perjalanan, tetapi bagian dari upaya melindungi jamaah dari penyakit menular selama berada di tengah kerumunan jutaan orang dari berbagai negara.
Bahkan, untuk jamaah asal Indonesia, ketentuan vaksinasi ini telah menjadi bagian dari persyaratan kesehatan perjalanan ke Arab Saudi.
Meningitis meningokokus merupakan infeksi yang disebabkan oleh bakteri Neisseria meningitidis. Penyakit ini dapat menyebabkan meningitis, yaitu peradangan pada selaput otak dan sumsum tulang belakang, serta infeksi berat pada darah. Penularannya dapat terjadi melalui percikan saluran pernapasan dan kontak dekat.
Kondisi ibadah haji dan umroh memiliki karakteristik yang membuat penularan penyakit menular lebih mudah terjadi, seperti:
Risiko tersebut bukan sekadar teori. WHO mencatat bahwa ibadah haji dan umroh pernah dikaitkan dengan kejadian luar biasa meningokokus, termasuk wabah yang disebabkan oleh serogrup A dan W135.
Pada 2025, WHO juga melaporkan sejumlah kasus invasive meningococcal disease yang berkaitan dengan perjalanan umroh. Dari kasus yang dilaporkan, sebagian besar pasien diketahui tidak memiliki riwayat vaksinasi meningokokus.
Karena itu, vaksin meningokokus menjadi salah satu persyaratan kesehatan utama untuk jamaah yang akan memasuki Arab Saudi.
Berdasarkan ketentuan Kementerian Kesehatan Arab Saudi untuk umroh 1447 H/2026, vaksin meningokokus harus diberikan minimal 10 hari sebelum kedatangan di Arab Saudi.
Untuk vaksin meningitis, masa perlindungannya bergantung pada jenis vaksin yang digunakan. Vaksin meningitis jenis konjugat dapat berlaku hingga 5 tahun, sedangkan vaksin jenis polisakarida berlaku hingga 3 tahun.
Jadi, tidak selalu harus vaksin ulang setiap kali akan umroh atau haji, selama vaksin sebelumnya masih dalam masa berlaku dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan Arab Saudi. Yang penting, vaksin sudah diberikan minimal 10 hari sebelum tiba di Arab Saudi.
Artinya, jangan menunggu terlalu dekat dengan jadwal keberangkatan.
Polio merupakan penyakit yang disebabkan oleh poliovirus. Penyakit ini dapat menyerang sistem saraf dan dalam kondisi tertentu menyebabkan kelumpuhan permanen.
Polio menjadi perhatian dalam perjalanan internasional karena virus dapat menyebar melalui perpindahan manusia dari wilayah yang masih memiliki transmisi polio ke wilayah lain.
Dalam ketentuan kesehatan Arab Saudi untuk umroh 1447 H/2026, jamaah yang datang dari Indonesia termasuk kelompok yang diwajibkan mendapatkan vaksinasi polio. Persyaratannya adalah minimal satu dosis vaksin polio inaktif atau IPV. Jika IPV tidak tersedia, sertifikat vaksin dengan minimal satu dosis OPV yang mengandung tipe 2 dapat diterima sesuai ketentuan yang berlaku.
Kementerian Kesehatan RI juga telah menerbitkan kebijakan imunisasi bagi jamaah haji dan umroh asal Indonesia dengan mempertimbangkan persyaratan kesehatan yang ditetapkan Arab Saudi. Dalam ketentuan tersebut, jamaah umroh dan haji asal Indonesia diwajibkan mendapatkan imunisasi meningitis meningokokus dan polio.
Jadi, vaksin polio untuk jamaah Indonesia bukan sekadar vaksin tambahan, tetapi menjadi bagian dari persyaratan kesehatan perjalanan ke Arab Saudi sesuai regulasi yang berlaku.
Ada satu pemeriksaan yang mungkin membuat calon jamaah wanita bertanya-tanya: "Kenapa sebelum vaksin harus tes kehamilan?"
Tes kehamilan atau Gravindex pada dasarnya merupakan pemeriksaan untuk mengetahui ada atau tidaknya kehamilan sebelum pemberian vaksin tertentu.
Dalam pelayanan vaksinasi internasional, wanita usia subur dapat diminta menjalani tes kehamilan sebagai bagian dari skrining sebelum vaksinasi. Praktik ini juga tercantum dalam layanan pemeriksaan kesehatan jamaah haji, termasuk pemeriksaan terhadap wanita usia subur.
Tujuannya bukan untuk mempersulit calon jamaah, tetapi untuk memastikan kondisi kesehatan sebelum vaksin diberikan dan membantu tenaga kesehatan menentukan tindakan yang paling tepat.
Perlu dipahami, hasil tes kehamilan bukan berarti setiap wanita yang positif hamil otomatis tidak boleh melakukan perjalanan. Keputusan terkait vaksinasi dan kelayakan perjalanan pada ibu hamil perlu mempertimbangkan jenis vaksin, usia kehamilan, kondisi kesehatan, serta ketentuan perjalanan yang berlaku.
Karena itu, apabila hasil tes menunjukkan kehamilan, jangan langsung memutuskan sendiri untuk tetap atau membatalkan vaksinasi. Konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter.
Agar persiapan tidak dilakukan terburu-buru, calon jamaah dapat memperhatikan beberapa hal berikut:
1. Vaksin meningitis meningokokus
Wajib untuk jamaah umroh dari semua negara sesuai ketentuan Arab Saudi. Vaksin harus diberikan sesuai jenis dan masa berlaku yang ditetapkan.
2. Vaksin polio
Untuk jamaah asal Indonesia, vaksinasi polio merupakan bagian dari persyaratan perjalanan ke Arab Saudi. Ketentuan 2026 menetapkan minimal satu dosis IPV untuk pelaku perjalanan dari Indonesia.
3. Tes kehamilan bagi wanita usia subur
Pemeriksaan ini dilakukan sebagai bagian dari skrining sebelum vaksinasi pada wanita yang masih berada dalam usia reproduktif.
4. Sertifikat vaksinasi internasional
Hasil vaksinasi perlu didokumentasikan sesuai ketentuan layanan vaksinasi internasional sehingga dapat digunakan sebagai bukti vaksinasi perjalanan.
5. Perhatikan waktu pemberian vaksin
Jangan melakukan vaksinasi beberapa hari sebelum keberangkatan tanpa memperhatikan masa yang dipersyaratkan. Untuk vaksin meningitis, ketentuan Arab Saudi 2026 mensyaratkan vaksin diberikan minimal 10 hari sebelum kedatangan. Untuk IPV, Saudi merekomendasikan pemberian dalam 12 bulan terakhir dan minimal 4 minggu sebelum kedatangan.
Persiapan kesehatan sebaiknya dilakukan bersamaan dengan persiapan administrasi perjalanan.
Selain memastikan vaksin yang diperlukan, calon jamaah juga dapat berkonsultasi mengenai kondisi kesehatan, obat-obatan rutin, penyakit kronis, maupun vaksin lain yang mungkin diperlukan selama perjalanan.
WHO mengingatkan bahwa jutaan orang dari berbagai negara berkumpul dalam kegiatan haji dan umroh sehingga risiko penularan penyakit infeksi menjadi salah satu perhatian penting dalam perjalanan ini. Dengan vaksinasi dan persiapan kesehatan yang baik, jamaah dapat lebih siap menjalankan rangkaian ibadah dengan tenang.
Persiapan menuju Tanah Suci bukan hanya tentang tiket, perlengkapan, dan manasik. Pastikan kesehatan dan vaksinasi juga sudah dipersiapkan sejak jauh hari.
RS Roemani Muhammadiyah Semarang menyediakan layanan vaksinasi untuk kebutuhan umroh dan haji, termasuk vaksin meningitis Menivax dan Formening, serta pemeriksaan yang diperlukan sebagai bagian dari skrining kesehatan calon jamaah.
Jangan menunggu hingga hari keberangkatan semakin dekat. Pastikan vaksinasi dan persiapan kesehatan Sobat Roemani sudah dilakukan sesuai ketentuan, sehingga dapat berangkat dengan lebih tenang dan fokus menjalankan ibadah.
Mau mempersiapkan vaksin umroh atau haji di RS Roemani?
Sebelum melakukan vaksinasi, hubungi Customer Service RS Roemani terlebih dahulu untuk mendapatkan informasi jadwal vaksinasi dan memastikan ketersediaan vaksin.

📞 Info lebih lanjut:
Telp: (024) 8444623
WhatsApp: 0895-3146-4260
Jadwal pelayanan, tarif, ketersediaan vaksin, serta syarat dan ketentuan dapat berubah sesuai kondisi pelayanan.
📍 Instalasi Poli Eksekutif Ibrahim Tower– RS Roemani Muhammadiyah Semarang
Jl. Wonodri No 22, Semarang
☎️ (024) 8444625 / 8444626
📱 WhatsApp Customer Service: 089531464260
📱 Marketing (rekanan & kerja sama): 0812 2691 6238
📅Cek jadwal Poliklinik RS Roemani
📅 Pendaftaran Online RS Roemani
Buka
Senin - Sabtu 07.00 - 14.00
RS Roemani Muhammadiyah Semarang
Rumah Sehat Keluarga Islami.
Tidak ada Komentar